MUARA TEWEH - Bupati Kabupaten Barito Utara, Shalahuddin menyatakan melalui Festival Tandak Intan Kaharingan (FTIK) XII Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah memastikan nilai-nilai filosofi Kaharingan tetap hidup, relevan dan dipahami generasi muda.
"Festival ini bukan hanya ajang perlombaan, tetapi sebuah komitmen bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Kaharingan sebagai warisan leluhur," kata Shalahuddin pada pembukaan FTIK Kalteng di Muara Teweh, Senin malam.
Festival digelar mulai 23–26 November 2025 di beberapa lokasi di Muara Teweh, termasuk Arena Tiara Batara, Gedung Balai Antang, Aula Bapperida, Aula Tandak, dan Lapangan Pura.
Tercatat 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah mengirimkan kontingennya dengan total peserta dan pendamping mencapai lebih dari 1.000 orang. Para peserta akan berlaga dalam 11 cabang lomba, mulai dari Kandayu, Matir Basarah, Vokal Grup, Karungut, hingga pembacaan Kitab Suci Panaturan dan tarian bernuansa Hindu Kaharingan.
Dewan juri berjumlah 28 orang yang berasal dari akademisi serta tokoh Kaharingan yang telah menyatakan ikrar netralitas dan profesionalitas.
“Kami berharap festival ini menjadi ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru, mempererat persatuan antarkontingen, sekaligus meningkatkan kebanggaan generasi muda terhadap seni dan adat Kaharingan, selain itu, kegiatan ini diharapkan memberi dampak positif bagi perekonomian dan pariwisata daerah," kata Shalahuddin.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Kalteng Herson B. Aden, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya festival tahunan ini.
Ia menilai FTIK bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang penting bagi generasi muda dalam memperkuat identitas budaya Kaharingan. Festival ini bukan hanya ajang lomba, tetapi wadah membangun generasi Hindu Kaharingan yang beriman, cinta budaya, dan memiliki karakter kuat.
"Melalui kegiatan ini, kita juga mempererat persaudaraan sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045,” kata Herson membacakan sambutan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.
Dia mengatakan, komitmen seluruh kabupaten/kota yang mengirimkan kontingen menunjukkan bahwa budaya Kaharingan tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.
"Diharapkan FTIK dapat terus menjadi benteng pelestarian adat lokal di Kalimantan Tengah," kata Herson.
Filosofi Kaharingan tetap Dipahami Generasi Muda

Advertisement
[ SPACE IKLAN ]







