KALIMANTAN TIMUR – Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Gerakan TOGA di RT 61 Kelurahan Sepinggan Baru dilaksanakan sebagai upaya mendukung terwujudnya pola hidup yang lebih sehat melalui pemanfaatan tanaman obat keluarga di lingkungan permukiman. Program ini dipimpin oleh Ibu Dhyah Puspita Dewi, S.T., M.P.W.K. selaku ketua, yang berperan menginisiasi koordinasi intensif dengan pengurus RT 61 dan mitra setempat, mulai dari tahap penjajakan kebutuhan, penentuan lokasi kebun TOGA, hingga penyusunan rangkaian kegiatan sosialisasi dan penanaman.
Pada tahap persiapan, Ibu Dhyah bersama tim dosen dan mahasiswa melakukan diskusi dan survei lapangan dengan pengurus RT 61 untuk mengidentifikasi titik lahan yang berpotensi dikembangkan sebagai kebun apotek hidup, sekaligus menggali harapan warga terhadap pemanfaatan TOGA sebagai bagian dari kemandirian kesehatan keluarga. Melalui proses ini, program tidak hanya berfokus pada aspek penanaman, tetapi juga pada penguatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kembali memanfaatkan tanaman obat di tengah gaya hidup modern yang cenderung bergantung pada obat kimia.
Pengadaan bibit menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung keberhasilan kebun TOGA, di mana Bapak Bimo Aji Widyantoro, S.T.,M.T. berperan sebagai koordinator pengadaan bibit dari Balai Persemaian Permanen BPDAS HL Mahakam Berau. Melalui koordinasi tersebut, diperoleh berbagai bibit tanaman buah dan tanaman obat yang kemudian dipadukan dengan bibit rimpang yang disiapkan oleh tim pengabdian, sehingga kebun yang terbentuk tidak hanya hijau, tetapi juga fungsional bagi kesehatan warga.
Dalam aspek sosialisasi, Ibu Khairunnisa Adhar, S.T., M.Sc. berperan sebagai narasumber utama yang menyampaikan materi mengenai jenis, manfaat, dan cara sederhana mengolah tanaman obat keluarga agar dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan secara mandiri. Melalui penyuluhan ini, warga diperkenalkan pada berbagai tanaman yang mudah dibudidayakan di pekarangan rumah, sekaligus diajak berdiskusi tentang bagaimana mengintegrasikan TOGA ke dalam kebiasaan hidup sehari-hari sebagai langkah preventif menuju keluarga yang lebih sehat.
Pelaksanaan penanaman bibit di lapangan dikoordinasikan oleh Ibu Srirahadita Pamungkas, S.T., M.T., yang mengatur penataan jenis tanaman di lokasi kebun TOGA serta mengarahkan proses penanaman agar sesuai dengan rencana pemanfaatan jangka panjang. Kegiatan penanaman ini dilaksanakan secara bersama-sama oleh warga RT 61, mahasiswa yang terlibat dalam program pengabdian, dan seluruh tim dosen, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif terhadap kebun apotek hidup yang dibangun.
Di sisi lain, Ibu Sarah Membala, S.Ars., M.URP. berperan sebagai sekretaris dan koordinator kegiatan sosialisasi yang memastikan seluruh rangkaian acara, mulai dari penyusunan materi, penjadwalan, hingga dokumentasi kegiatan, berjalan dengan tertib dan terstruktur. Peran administratif dan koordinatif ini mendukung kelancaran komunikasi antara tim pengabdian dan masyarakat, sehingga pesan tentang pentingnya TOGA bagi kesehatan dapat tersampaikan dengan baik dan mudah dipahami.
Sinergi peran para dosen, mahasiswa, dan warga RT 61 menjadikan program ini lebih dari sekadar penanaman bibit, tetapi juga sebagai gerakan edukasi yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya hayati di sekitar mereka. Dengan adanya kebun TOGA yang dikelola bersama, warga diharapkan semakin termotivasi untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan berbasis tanaman obat keluarga di lingkungan tempat tinggal mereka.
Setelah penanaman selesai, tanggung jawab pengelolaan diserahkan kepada kelompok warga yang dibentuk secara khusus. Kelompok ini berperan dalam pemeliharaan tanaman, serta menjadi duta edukasi bagi masyarakat lain agar lebih memahami fungsi dan nilai TOGA.
Kegiatan ini telah menumbuhkan kesadaran baru di kalangan warga RT 61 akan pentingnya pemakaian tanaman obat sebagai alternatif sehat yang murah, mudah diperoleh, dan ramah lingkungan. Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa dengan semangat gotong royong dan pengarahan yang tepat, lahan-lahan kosong di perkotaan dapat diubah menjadi kebun produktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.






